« Kembali ke Actio#17

WARISAN BUDAYA TAKBENDA INDONESIA: KUNCI UNTUK MENGEMBALIKAN INDUSTRI MENUJU KESUKSESAN PASCAPANDEMI

Keberadaan COVID-19 telah merugikan banyak negara di dunia, terutama dalam bidang ekonomi. Di Indonesia, salah satu sektor penting yang sangat terpengaruh akibat COVID-19 adalah industri pariwisata. Misalnya, Bali, yang dapat dikatakan sebagai tujuan wisata paling populer di Indonesia. Bali mencatat 6,3 juta kunjungan wisatawan mancanegara langsung pada tahun 2019.1 Jumlah itu merosot drastis pada 2020 dengan hanya 1,05 juta wisatawan mancanegara2 yang berkunjung, dan hanya 43 wisatawan dalam 9 bulan pertama tahun 2021.3 Efeknya terefleksikan dari pendapatan asli daerah dan provinsi Bali. Pada 2019, Bali memperoleh pendapatan sebesar Rp4 triliun, tetapi pada 2020 hanya mampu menghasilkan pendapatan Rp3 triliun atau turun sekitar 25 persen. Prospek Bali masih tetap suram pada tahun 2021.

Sebagai negara yang kaya akan budaya, Indonesia dikenal memiliki situs warisan budaya benda, seperti Candi Borobudur dan Taman Nasional Komodo. Ada pula kekayaan yang takbenda, mulai dari cerita rakyat, seni pertunjukan, tari, batik, dan banyak lainnya. Bahkan, hingga tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaporkan dan mencatat bahwa Indonesia telah mengidentifikasi 594 ‘’objek’’ warisan budaya takbenda.

United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage 20037 menyatakan bahwa warisan budaya takbenda memiliki sifat abstrak, seperti konsep dan teknologi, dan sifatnya dapat berlalu dan hilang seiring waktu, antara lain: bahasa, musik, tarian, upacara, dan berbagai perilaku terstruktur lainnya. Berdasarkan definisi UNESCO, 11 elemen warisan budaya takbenda telah diidentifikasi meliputi:8 teater boneka wayang, keris, motif batik, pendidikan dan pelatihan batik oleh Museum Batik Pekalongan, angklung, tari saman, tiga genre tari tradisional Bali, noken (tas anyaman Orang Papua), pinisi (seni membuat perahu), pencak silat, dan pantun.

Terlepas dari potensi besar Indonesia untuk menjadi pusat pariwisata warisan budaya takbenda, topik ini kurang diperhatikan dibandingkan dengan yang warisan budaya benda. Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya bahkan tidak menyebutkan tentang warisan budaya takbenda. Namun, terdapat peraturan daerah yang mengatur tentang warisan budaya takbenda, yakni Peraturan Daerah Istimewa Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan, yang meliputi penguatan benda budaya dan pelibatan masyarakat serta peran sertanya. Peraturan Daerah Istimewa ini bahkan mendorong seluruh warga Yogyakarta untuk mengelola budayanya masing-masing, yang harus difasilitasi oleh pemerintah daerah setempat. Sayangnya, peraturan ini tidak berlaku secara nasional dan hanya berlaku di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Secara nasional, Indonesia belum mengeluarkan undang-undang serupa dengan cakupan yang luas. Pemerintah telah mengesahkan undang-undang tentang Adat pada tahun 2013. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 106 Tahun 2013 tentang Warisan Budaya Takbenda Indonesia mendorong setiap individu atau masyarakat adat untuk secara aktif mendaftarkan warisan budaya takbendanya. Pendaftaran ini nantinya akan ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda resmi oleh Kementerian. Sayangnya, Peraturan Menteri ini tidak mengatur pemeliharaan atau pengembangan, tetapi hanya untuk memastikan pendaftaran warisan budaya sehingga warisan tidak akan hilang seiring waktu. Peraturan tersebut berfokus pada pengaturan mengenai aspek administrasi pada pendaftaran.

Padahal, tanpa campur tangan pemerintah untuk membuat suatu undang-undang yang mengamanatkan kepada seluruh warga negara dan penduduk Indonesia untuk memelihara dan mengembangkan warisan budaya takbenda, tidak akan ada jaminan bahwa warisan tersebut tidak akan dilupakan dan dilestarikan. Ini akan menjadi kerugian bagi budaya Indonesia sekaligus kerugian bagi industri pariwisata

Menurut UNESCO, Indonesia menempati urutan ke-12 dengan jumlah warisan budaya takbenda terbanyak yang terdaftar dan diakui.9 Indonesia harus lebih berambisi untuk mencapai puncak daftar tersebut. Prentice, Witt, & Hamer menyatakan dalam karyanya, wisatawan cagar budaya “biasanya mencari informasi pengalaman pengunjung daripada hanya menikmati dengan menatap,” Indonesia harus meningkatkan fokus pada penekanan pengalaman internal bagi wisatawan untuk datang dan merasakan sensasi ritual dan budaya takbenda keindahan yang merupakan bagian dari warisan Indonesia. Dengan demikian, setiap bagian takbenda dari warisan budaya kita secara inheren dan melekat dapat menjadi bagian dan pelengkap dari warisan budaya berwujud. SP/TWK