« Kembali ke Actio#18

INDONESIA TETAP MENGANDALKAN IMPOR DALAM MENANGANI KRISIS PANGAN, EROPA MERENCANAKAN MUNTUK “MENANAM LEBIH BANYAK”

Menteri Pertanian Indonesia, Syahrul Yasin Limpo, mengumumkan bahwa impor diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Hal ini diketahui dari rapat kerja pada 22 Maret 2022 antara Kementerian Pertanian bersama Komisi IV DPR RI, sebuah komisi yang ruang lingkupnya menangani bidang pertanian, lingkungan hidup dan kehutanan, serta kelautan.

Menurut Kementerian Pertanian, stok kedelai Indonesia mengalami defisit sehingga memerlukan impor sebanyak 2.842.226 ton untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kedelai bukan satu-satunya komoditas yang dipermasalahkan. Menteri Pertanian juga memproyeksikan perlunya impor bawang putih sebanyak 366.900 ton, gula konsumsi sebanyak 234.692 ton, dan daging sapi sebanyak 134.356 ton.

Menurut Menteri Pertanian, ketergantungan Indonesia akan impor kedelai telah berlangsung selama 12 tahun. Struktur harga yang tidak menguntungkan bagi petani kedelai menyebabkan lemahnya produksi kedelai dalam negeri. Kedelai impor dijual sekitar Rp5.000/kg, sedangkan petani dalam negeri tidak dapat menutupi biaya produksi dengan harga di bawah Rp7.000/kg.

Sementara di Eropa, invasi Rusia terhadap Ukraina (salah satu produsen gandum terbesar di dunia) memaksa Uni Eropa mengambil sikap dan memutuskan untuk meningkatkan produksi gandumnya sendiri guna memitigasi krisis pangan. Setelah dua tahun mencoba membujuk Uni Eropa untuk meningkatkan sistem pertanian negara mereka menuju jalur yang lebih hijau, Komisi Uni Eropa kini mengizinkan negara-negara di dalamnya untuk mencabut aturan lingkungan dan membesarkan lahan untuk produksi. Hal tersebut mempengaruhi Kesepakatan Hijau (Green Deal) yang telah disetujui oleh negara-negara Uni Eropa pada 12 Desember 2019. Salah satunya dengan membebaskan 4 juta hektar lahan pertanian untuk dijadikan lahan keanekaragaman hayati. Keputusan itu membuat petani dapat menanam tanaman pangan dan pakan ternak apa pun di atas lahan tersebut.

Selain komoditas gandum, konflik Rusia-Ukraina juga menyadarkan Uni Eropa akan ketergantungan mereka terhadap ekspor jagung Ukraina, yang merupakan bahan utama pakan ternak dan pupuk dari Rusia serta Belarusia. Kini, negara-negara Uni Eropa berusaha mandiri dan mulai mengurangi kebutuhan impor. Uni Eropa memberikan bantuan langsung kepada para petani sebesar €500.000.000 untuk mengatasi kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk yang diperlukan bagi pertanian. Uni Eropa juga berencana menyuplai Polandia sebanyak 50.000 ton bahan bakar untuk keperluan traktor- traktor Ukraina memenuhi kebutuhan bahan bakar mingguan mereka di perbatasan. TWK/DBS