« Kembali ke Actio#4

MENAKAR RISIKO INVESTASI DI “PEER TO PEER LENDING”

Di era ketika semua serba digital seperti saat ini, kita dimudahkan hampir dalam segala hal. Salah satunya adalah kemudahan mendapatkan pinjaman dan kemudahan untuk berinvestasi. Kemudahan tersebut tecermin dalam pemberian pinjaman berbasis teknologi. Salah satu pemberian pinjaman yang populer belakangan ini adalah peer to peer lending. Penyaluran pinjaman melalui sistem peer to peer lending ini sekilas cukup mudah dan cepat untuk dilaksanakan.

Pada umumnya, perusahaan penyelenggara jasa hanya mensyaratkan calon debitor untuk mengisi form yang telah disediakan di website secara online serta melampirkan beberapa dokumen. Data tersebut kemudian akan dinilai oleh perusahaan penyelenggara jasa apakah calon debitor yang bersangkutan layak untuk diberi kredit atau tidak. Apabila calon debitor dianggap layak, perusahaan penyelenggara jasa akan mencarikan calon kreditor yang sesuai.

Dari sisi debitor, mereka bisa mendapatkan pinjaman dengan MENAKAR RiSIKO INVESTASI DI “PEER TO PEER LENDING” syarat yang relatif mudah dan waktu yang singkat. Adapun dari sisi kreditor, hal tersebut cukup menjanjikan untuk mendapatkan pengembalian dana dalam waktu yang relatif singkat dengan bunga yang cukup tinggi. Kemudahan ini membuat bisnis peer to peer lending berkembang sangat pesat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun, di balik kemudahan bertransaksi, kita juga harus memahami potensi permasalahan sistem peer to peer lending, khususnya bagi kreditor.

Berbeda dengan investasi di bank konvensional—seperti deposito yang dananya dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), atau bahkan belakangan investasi saham juga dijamin apabila dananya dibawa kabur oleh perusahaan efek—investasi di peer to peer lending tidak dijamin oleh LPS ataupun disertai jaminan khusus apabila perusahaan membawa kabur dana investasi. Risiko lain yang harus diperhitungkan adalah bagaimana status dari investor apabila perusahaan penyelenggara jasa dinyatakan pailit dan dana dari investor belum disalurkan kepada debitor? Yang perlu dipertimbangan dalam hal ini, apakah investor berstatus sebagai kreditor atau tidak? Pasalnya, tidak ada hubungan hukum antara investor dan perusahaan penyelenggara jasa peer to peer lending.

Selain itu, karena kreditor berhubungan langsung dengan debitor, maka risiko sepenuhnya ditanggung oleh pemodal (investor) apabila debitor tidak melakukan pembayaran pinjaman. Terlebih lagi, tidak ada agunan atau jaminan atas aset debitor dalam pemberian pinjaman ini. Dengan demikian, tidak ada keterjaminan atas pengembalian dana investasi dari kreditor kepada debitor.

Di sisi lain, perusahaan penyelenggara jasa tidak terlibat dalam hubungan perjanjian pinjam-meminjam, tetapi hanya sebagai perantara. Perusahaan pada umumnya hanya akan memfasilitasi proses penyelesaian pembayaran utang tersebut. Mengingat adanya beberapa potensi risiko dalam menanamkan dana melalui perusahaan peer to peer lending seperti di atas, maka ada baiknya sebelum berinvestasi, kita melakukan survei dan memilih perusahaan peer to peer lending yang tepercaya dan terdaftar di OJK.

-ADP-